Sabtu, 08 Oktober 2011

BAB 2 Pengertian dan Prinsip-prinsip Koperasi

1.     Pengertian Koperasi
 – Secara harfiah kata “Koperasi” berasal dari bahasa Inggris “Coperation” yang terdiri dari dua suku kata; Co (Bersama) danOperation (Bekerja). Jadi secara keselurhan koperasi berarti bekerja sama. Koperasi adalah Asosiasi orang-orang yang bergabung dan melakukan usaha bersama atas dasar prinsip-prinsip koperasi, sehingga mendapatkan manfaat yang lebih besar dengan biaya rendah melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis oleh anggotanya. Asosiasi berbeda dengan kelompok, asosiasi terdiri dari orang orang yang memiliki kepentingan yang sama, lazimnya yang menonjol adalah kepentingan ekonomi. Sedangkan tujuan koperasi adalah untuk menjadikan kondisi sosial dan ekonomi anggotanya lebih baik dibanding sebelum bergabung dengan koperasi. Dibawah ini adalah rangkuman Perpustakaan Online Blogger Indonesia (duniabaca.com) yang diambil dari beberapa sumber tentang pengertian koperasi.
Pengertian-pengertian pokok tentang Koperasi :
1. Merupakan perkumpulan orang orang termasuk badan hukum yang mempunyai kepentingan dan tujuan yang sama.
2. Menggabungkan diri secara sukarela menjadi anggota dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai pencerminan demokrasi dalam ekonomi.
3. Kerugian dan keuntungan ditanggung dan dinikmati bersama secara adil.
4. Pengawasan dilakukan oleh anggota.
5. Mempunyai sifat saling tolong menolong.
6. Membayar sejumlah uang sebagai simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai syarat menjadi anggota.

·         Definisi ILO (International Labour Organization)

Dalam definisi ILO terdapat 6 elemen yang dikandung dalam koperasi, yaitu :
1.Koperasi adalah perkumpulan orang-orang
2.Penggabungan orang-orang berdasarkan kesukarelaan
3.Terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai
4.Koperasi berbentuk organisasi bisnis yang diawasi dan dikendalikan secara demokratis
5.Terdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang dibutuhkan
6.Anggota koperasi menerima resiko dan manfaat secara seimbang




·         Definisi Chaniago

Koperasi sebagai suatu perkumpulan  yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum, yang memberikan kebebasan kepada anggota untuk masuk dan keluar, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya .

·         Definisi Dooren

P.J.V Dooren mengatakan bahwa, tidak ada satu pun definisi koperasi yang diterima secara umum (Nasution, M. dan M. Taufiq, 1992). Kendati demikian, Dooren masih tetap memberikan definisi koperasi sebagai berikut:
There is no single definiton (for cooperative) which is generally accepted, but the common principle is that cooperative union is an associaton of member, either personal or corporate, which have voluntarily come together in pursuit of a common economic objective.
Di sini, Dooren sudah memperluas pengertian koperasi, di mana koperasi tidaklah hanya kumpulan orang-orang, akan tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari badan-badan hukum (corporate).
·         Definisi Hatta
Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki  nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong. Semangat tolong menolong tersebut didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan ‘seorang buat semua dan semua buat seorang’
·         Definisi Munkner
Munkner mendefinisikan koperasi sebagai organisasi tolong-menolong yang menjalankan “urusniaga” secara kumpulan, yang berazaskan konsep tolong-menolong. Aktivitas dalam urusniaga semata-mata bertujuan ekonomi, bukan sosial yang dikandung gotong-royong.
·         Definisi UU No. 25/1992
Koperasi adalah badan usaha yang berangotakan orang seorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat, yang berdasar atas asas kekeluargaan.
2.     Tujuan Koperasi
Tujuan utama Koperasi Indonesia adalah mengembangkan kesejahteraan anggota, pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Koperasi Indonesia adalah perkumpulan orang-orang, bukan perkumpulan modal sehingga laba bukan merupakan ukuran utama kesejahteraan anggota. Manfaat yang diterima anggota lebih diutamakan daripada laba. Meskipun demikian harus diusahakan agar koperasi tidak menderita rugi.Tujuan ini dicapai dengan karya dan jasa yang disumbangkan pada masing-masing anggota.
“Keanggotaan Koperasi Indonesia bersifat sukarela dan didasarkan atas kepentingan bersama sebagai pelaku ekonomi. Melalui koperasi, para anggota ikut, secara aktif memperbaiki kehidupannya dan kehidupan masyarakat melalui karya dan jasa yang disumbangkan. Dalam usahanya, koperasi akan lebih menekankan pada pelayanan terhadap kepentingan anggota, baik sebagai produsen maupun konsumen. Kegiatan koperasi akan lebih banyak dilakukan kepada anggota dibandingkan dengan pihak luar. Oleh karena itu, anggota dalam koperasi, bertindak sebagai pemilik sekaligus pelanggan.” (SAK,1996:27.1)
Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Pasal 3 tujuan koperasi Indonesia adalah “koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945”.

3.     Prinsip-prinsip Koperasi
·        Prisip Munkner
Hans H. Munkner menyarikan 12 prinsip koperasi yang diturunkan dari 7 gagasan umum, antara lain sebagai berikut :
7 gagasan umum
Ø  Menolong diri sendiri berdasarkan kesetiakawanan
Ø  Demokrasi
Ø  Kekuatan modal tidak diutamakan
Ø  Ekonomi
Ø  Kebebasan
Ø  Keadilan
Ø  Memajukan kehidupan social melalui pendidikan
12 prinsip koperasi Munkner
Ø  Keanggotaan bersifat sukarela
Ø  Keanggotaan terbuka
Ø  Pengembangan anggota
Ø  Identitas sebagai pemilik dan pelanggan
Ø  Manajemen dan pengawasan dilaksanakan secara demokratis
Ø  Koperasi sebagai kumpulan orang-orang
Ø  Modal yang berkaitan dengan aspek social tidak dibagi
Ø  Efisiensi ekonomi dari perusahaan koperasi
Ø  Perkumpulan dengan sukarela
Ø  Kebebasan dalam pengambilan keputusan dan penetapan tujuan
Ø  Pendistribusian yang adil dan merata akan hasil-hasil ekonomi
Ø  Pendidikan anggota
Prinsip-prinsip yang diidentifikasi Munkner tersebut merupakan perpadun dari aturan-aturan yang berlaku dalam organisasi social dan kehidupan bermasyarakat. Menurut Munkner, prinsip-prinsip koperasi adalah prinsip-prinsip ilmu pengetahuan social yang dirumuskan dari pengalaman dan merupakan petunjuk utama dalam mengerjakan sesuatu.
·        Prinsip Rochdale
Sebagaimana telah disinggung diatas, sejarah prinsip koperasi bermula dari prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh koperasi konsumsi di Rochdale. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut :
Ø  Pengawasan secara demokratis
Ø  Keanggotaan yang terbuka
Ø  Bunga atas modal dibatasi
Ø  Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota sebanding dengan jasa masing-masing anggota
Ø  Penjualan sepenuhnya dengan tunai
Ø  Barang-barang yang dijual harus asli dan tidak yang dipalsukan
Ø  Menyelenggarakan pendidikan kepada anggota dengan prinsip-prinsip anggota
Ø  Netral terhadap politik dan agama
·        Prinsip  Raiffeisen
Freidrich William Raiffeisen (1818-1888) adalah walikota Flammersfelt di Jerman. Keadaan perekonomian yang buruk di Jerman pada saat itu, khususnya dalam bidang pertanian, membuat F.W. Raiffeisen mengembangkan koperasi kredit “bank rakyat”. Yang diantaranya adalah sebagai berikut :
Ø  Swadaya
Ø  Daerah kerja terbatas
Ø  SHU untuk cadangan
Ø  Tanggung jawab anggota tidak terbatas
Ø  Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
Ø  Usaha hanya kepada anggota
Ø  Keanggotaan atas dasar watak, bukan uang
·        Prinsip Schulze
Di kota lain di Jerman, Delitzsch, seorang ahli hokum yang bernama Herman Schulze (1800-1883) tertarik untuk memperbaiki kehidupan para pengusaha kecil seperti pengrajin, wirausahawan industri kecil, pedagang eceran, dan jenis usaha lainnya. Upaya yang dilakukan oleh Schulze adalah mengembangkan gagasan koperasi bagi pengusaha kecil. Jadi, dalam periode yang hampir bersamaan, di Jerman ada 2 konsep koperasi yang dikembangkan, yaitu koperasi menurut prinsip-prinsip Raiffeisendi daerah pedesaan, dan koperasi menurut prinsip-prinsip Herman Schulze yang dikembangkan di daerah pinggiran kota (urban). Prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut :
Ø  Swadaya
Ø  Daerah kerja tak terbatas
Ø  SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan kepada anggota
Ø  Tanggung jawab anggota terbatas
Ø  Pengurus bekerja dengan mendapat imbalan
Ø  Usaha tidak terbatas tidak hanya untuk anggota
Pengertian dari masing-masing prinsip diatas (Herman dan Raiffeisen) adalah :
Swadaya
Swadaya atau kekuatan atau usaha mandiri mengandung makna bahwa para petani harus dapat mengatasi kesulitan dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari manapun asalnya.
Daerah kerja tak terbatas
Prinsip ini mengandung arti bahwa daerah operasi dari koperasi terbatas pada daerah dimana masing-masing anggota saling mengenal dengan baik. Prinsip kedua ini berbeda dengan yang diterapkan di pinggiran kota yang dikembangkan oleh Herman Schulze, dimana daerah kerja tidak terbatas.
SHU untuk cadangan
Seluruh SHU yang diperoleh koperasi dipergunakan dipergunakan dalam memperkuat modal koperasi. Penerapan prinsip ini akan berimplikasi terhadap pemantapan swadaya koperasi. Di pihak lain, pinggiran kota, prinsip ini dikembangkan dimana SHU dibagi selain disisihkan sebagian untuk cadangan, sebagian lagi dibagi kepada anggotanya
Tanggung jawab anggota tidak terbatas
Prinsip ini menekankan bahwa apabila koperasi menderita kerugian, maka kerugian menjadi tanggungan anggota. Hal ini berbeda sama sekali dengan koperasi dipinggiran kota dimana tanggung jawab anggota terbatas.
Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
Makna dari prinsip ini bahwa pengurus tidak memperoleh gaji atau imbalan jasa dari koperasinya, sebab pengurus harus dipilih dari anggota. Koperasi harus memperjuangkan kepentingan anggota yang berarti juga kepentingan pengurus. Prinsip ini ternyata tidak diterapkan dalam koperasi perkotaan, yang pengurusnya mendapatkan imbalan dan jasa.
Usaha hanya kepada anggota
Prinsip Raiffeisen menekankan hal ini dimana koperasi hanya melayani anggotanya, sebab tanggung jawab anggota yang tidak terbatas. Sedangkan koperasi yang dikembangkan Herman Schulze, koperasi tidak hanya melayani anggota tetapi juga yang bukan anggota
·        Prinsip ICa

Ø  Keanggotaan koperasi secara terbuka tanpa adanya pembatasan  yang dibuat-buat
Ø  Kepemimpinan yang demokratis atas dasar satu orang satu suara
Ø  Modal menerima bunga yang terbatas (bila ada)
Ø  SHU dibagi 3 : cadangan, masyarakat, ke anggota sesuai dengan jasa masing-masing
Ø  Semua koperasi harus melaksanakan pendidikan secara terus menerus
Ø  Gerakan koperasi harus melaksanakan kerjasama yang erat, baik ditingkat regional, nasional maupun internasional

·        Prinsip-prinsip Koperasi Indonesia

(UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian indonesia)
1. Keanggotaanya sukarela dan terbuka. Yang keanggotaanya bersifat sukarela terbuka bagi semua orang yang bersedia mengunakan jasa jasanya, dan bersedia menerima tanggung jawab keanggotaan tanpa membedakan gender.
2. Pengawasan oleh anggota secara Demokratis. Anggota yang secara aktif menetapkan kebijakan dan membuat keputusan. Laki laki dan perempuan yang dipilih sebagai pengurus atau pengawas bertanggung jawab kepada rapat anggota. Dalam koperasi primer, anggota memiliki hak suara yang sama (satu anggota satu suara). Pada tingkatan lain koperasi juga dikelola secara demokratis.
3. Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi. Anggota menyetorkan modal mereka secara adil dan melakukan pengawasan secara demokratis. Sebagian dari modal tersebut adalah milik bersama. Bila ada balas jasa terhadap modal diberikan secara terbatas. Anggota mengalokasikan SHU untuk beberapa atau semua tujuan seperti di bawah ini :
• Mengembangkan koperasi. Caranya dengan membentuk dana cadangan, yang sebagian dari dana itu tidak dapat dibagikan.
• Dibagikan kepada anggota. Caranya seimbang berdasarkan trnsaksi mereka dengan koperasi.
• Mendukung kegiatan lainnya yang disepakati dalam rapat anggota.


v  Referensi:


  
Nama Kelompok :
§  Ade Mussopan                      (20210118)
§  Arya Faizal                               (21210150)
§  Desy Dwi Jayanti                   ( 21210864)
§  Dila Noviyanti                        (22210015)
§  Dwi Manggala Septiawan  (22210194)
§  John Philip.S                           (23210754)
§  Lita Lestari                               (24210055)
KELAS : 2EB10

BAB 1 Konsep, Aliran dan Sejarah Koperasi

1.     Konsep Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan anggotanya
Konsep koperasi terbagi tiga yaitu:
·         Konsep koperasi barat.
Merupakan organisasi ekonomi, yang dibentuk secara sukarela oleh orang-orang yang mempunyai kesamaan kepentingan, dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya serta menciptakan keuntungan timbale balik bagi anggota koperasi maupun perusahaan koperasi
·         Konsep koperasi sosialis
 Koperasi direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah dan dibentuk dengan tujuan merasionalkan produksi, untuk menunjang perencanaan nasional.
Menurut koperasi ini, koperasi tidak berdiri sendiri tetapi merupakan subsistem dari system sosialisme untuk mencapai tujuan-tujuan system sosialis komunis.
·         Konsep koperasi Negara berkembang
Koperasi sudah berkembang dengan ciri tersendiri, yaitu dominasi campur tangan pemerintah dalam pembionaan dan pengembangannya.
Perbedaan dengan komsep social:
Koperasi social : tujuan koperasi untuk merasionalkan factor produksi dari kepemilikan probadi ke pemilikan kolektif.
Konsep Negara berkembang : tujuan koperasi adalah meningkatkan kondisi social ekonomi anggotanya.

2.     Latar Belakang Timbulnya Aliran Koperasi

Perbedaan ideology suatu bangsa akan mengakibatkan perbedaan system perekonomiannya dan tentunya aliran koperasi yang dianutpun akan berbeda. Sebaliknya, setiap system perekonomian suatu bangsa juga akan menjiwai ideology bangsanya dan aliran koperasinya pun akan menjiwai system perekonomian dan ideologi bangsa tersebut.

1. Keterkaitan Ideologi, Sistem Perekonomian dan Aliran Koperasi
Ideologi Sistem Perekonomian Aliran Koperasi
Liberalisme/Kapitalisme Sistem Ekonomi Bebas Liberal Yardstick
Komunisme/Sosialisme Sistem Ekonomi Sosialis Sosialis
Tidak termasuk Liberalisme dan Sosialisme Sistem Ekonomi Campuran Persemakmuran (commonwealth)

2. Aliran Koperasi
• Aliran Yardstick
- Dijumpai pada negara-negara yang berideologi kapitalis atau yang menganut perekonomian Liberal.
- Koperasi dapat menjadi kekuatan untuk mengimbangi, menetralisasikan dan mengoreksi
- Pemerintah tidak melakukan campur tangan terhadap jatuh bangunnya koperasi di tengah-tengah masyarakat. Maju tidaknya koperasi terletak di
tangan anggota koperasi sendiri
-Pengaruh aliran ini sangat kuat, terutama dinegara-negara barat dimana industri berkembang dg pesat. Spt di AS, Perancis, Swedia, Denmark, Jerman, Belanda dll.
• Aliran Sosialis
- Koperasi dipandang sebagai alat yang paling efektif untuk mencapai
kesejahteraan masyarakat, disamping itu menyatukan rakyat lebih mudah
melalui organisasi koperasi.
-Pengaruh aliran ini banyak dijumpai di negara-negara Eropa Timur dan Rusia.
• Aliran Persemakmuran (Commonwealth)
-Koperasi sebagai alat yang efisien dan efektif dalam meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat.
-Koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat berkedudukan strategis dan memegang peranan utama dalam struktur perekonomian masyarakat
-Hubungan Pemerintah dengan gerakan koperasi bersifat “Kemitraan (partnership)”, dimana pemerintah bertanggung jawab dan berupaya agar iklim pertumbuhan koperasi tercipta dengan baik.
• “KEMAKMURAN MASYARAKAT BERDASARKAN KOPERASI” KARANGAN E.D. DAMANIK
Membagi koperasi menjadi 4 aliran atau schools of cooperatives berdasarkan peranan dan fungsinya dalam konstelasi perekonomian negara, yakni :
a. Cooperative Commonwealth School
-Aliran ini merupakan cerminan sikap yang menginginkan dan memperjuangkan agar prinsip- prinsip koperasi diberlakukan pada bagian luas kegiatan manusia dan lembaga, sehingga koperasi memberi pengaruh dan kekuatan yang dominan di tengah masyarakat.
-M. Hatta dalam pidatonya tgl. 23 Agustus 1945 dg judul “Indonesia Aims and Ideals”, mengatakan bahwa yang dikehendaki bangsa Indonesia adalah suatu kemakmuran masyarakat yang berasaskan koperasi (what we Indonesias want to bring into existence is a Cooperative Commonwealth)
b. School of Modified Capitalism
Suatu paham yang menganggap koperasi sebagai suatu bentuk kapitalisme, namun memiliki suatu perangkat peraturan yang menuju pada pengurangan dampak negatif dari
kapitalis
c. The Socialist School
Suatu paham yang menganggap koperasi sebagai bagian dari sistem sosialis.
d. Cooperative Sector School
Paham yang menganggap filsafat koperasi sebagai sesuatu yang berbeda dari kapitalisme maupun sosialisme, dan karenanya berada di antara kapitalis dan sosialis.

3. Sejarah Perkembangan Operasi
·         Sejarah Lahirnya Koperasi
Sejarah lahirnya koperasi muncul pertama kali tahun  1844 di Rochdale Inggris, lahirnya koperasi modern.  Tahun 1852 jumlah koperasi di Inggris sudah mencapai 100 unit.
Dan pada tahun 1862 dibentuklah Pusat Koperasi Pembelian “The Cooperative Whole Sale Society (CWS). Selanjutnya dilanjutkan pada tahun berikutnya.
1818 – 1888 koperasi berkembang di negara Jerman dan dipelopori oleh Ferdinan Lasalle, Fredrich W. Raiffesen .
Sedangkan di Denmark koperasi berkembang pada tahun 1808 – 1883 dan dipelopori oleh Herman Schulze.
Tahun 1896 di London terbentuklah ICA (International Cooperative Alliance) mulai dari sini koperasi telah menjadi suatu gerakan internasional.
·         Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesia
Pertumbuhan koperasi di Indonesia dimulai sejak tahun 1896 (Ahmed
1964, h. 57) yang selanjutnya berkembang dari waktu ke waktu sampai
sekarang. Perkembangan koperasi di Indonesia mengalami pasang naik
dan turun dengan titik berat lingkup kegiatan usaha secara menyeluruh yang
berbeda-beda dari waktu ke waktu sesuai dengan iklim lingkungannya
Pada tahun 1895 di Leuwiliang didirikan pertama kali koperasi di Indonesia (Sukoco, “Seratus Tahun Koperasi di Indonesia”). Raden Ngabei Ariawiriaatmadja, Patih Purwokerto dkk mendirikan Bank Simpan Pinjam untuk menolong teman sejawatnya para pegawai negeri pribumi melepaskan diri dari cengkeraman pelepas uang.
Untuk menggiatkan pertumbuhan koperasi, pada akhir tahun 1930
didirikan Jawatan Koperasi dengan tugas:
a. memberikan penerangan kepada pengusaha-pengusaha Indonesia mengenai seluk beluk perdagangan;
b. dalam rangka peraturan koerasi No 91, melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap koperasi-koperasi, serta memberikanpenerangannya;
c. memberikan keterangan-keterangan tentang perdagangan pengangkutan, cara-cara perkreditan dan hal ihwal lainnya yang menyangkut perusahaan-perusahaan;
d. penerangan tentang organisasi perusahaan;
e. menyiapkan tindakan-tindakan hukum bagi pengusaha Indonesia
( Raka.1981,h.42)


v  Referensi :

·         zhes.wordpress.com/2010/10/08/konsep-koperasi-dan-sejarah-koperasi-di-indonesia/            
·         http://iwanketch.wordpress.com/2008/04/20/pengertian-tentang-koperasi/                    
·         ahim.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9892/BAB+I.ppt

Nama Kelompok :
§  Ade Mussopan                        (20210118)
§  Arya Faizal                              (21210150)
§  Desy Dwi Jayanti                    ( 21210864)
§  Dila Noviyanti                                    (22210015)
§  Dwi Manggala Septiawan       (22210194)
§  John Philip.S                           (23210754)
§  Lita Lestari                              (24210055)

ke KELAS : 2EB10

Kamis, 19 Mei 2011

Prospek Ekonomi 2011

 Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6,0% pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 6,0-6,5% pada tahun 2011. Dengan demikian prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula. “Di samping tetap kuatnya permintaan domestik, perbaikan terutama bersumber dari sisi eksternal sejalan dengan pemulihan ekonomi global, seperti terlihat dari ekspor yang mencatat pertumbuhan positif sejak triwulan IV-2009.
Pemulihan ekonomi global sangat jelas terlihat dari berbagai indikator ekonomi baik di negara maju (Amerika Serikat dan Jepang) maupun di kawasan Asia (Cina dan India). Di Amerika Serikat, pemulihan tercermin pada pengeluaran konsumsi masyarakat yang terus menguat dan dibarengi peningkatan respon di sisi produksi. Sementara di Jepang, ditandai oleh pertumbuhan positif pada triwulan terakhir 2009. Di Cina dan India, indikasi pemulihan ekonomi lebih jelas terlihat sebagaimana tercermin pada laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berbagai perbaikan tersebut memberikan dampak positif bagi negara-negara yang menjadi mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

            Pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor non migas Indonesia yang pada triwulan IV-2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17% dan masih berlanjut pada Januari 2010. Peningkatan ekspor tidak hanya terjadi pada komoditas pertambangan dan pertanian, tetapi juga ekspor komoditas manufaktur mulai mengalami peningkatan. Perkembangan ini mendukung pertumbuhan di sektor industri dan sektor perdagangan yang lebih tinggi dari perkiraan. Sementara itu, aktivitas impor sedikit meningkat sejalan dengan peningkatan ekspor tersebut, meskipun pada tingkat yang masih rendah. Transaksi berjalan di triwulan I-2010 diperkirakan mencatat surplus yang lebih besar dari perkiraan semula. Sementara itu, keyakinan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia yang semakin membaik tercermin pada surplus transaksi modal dan finansial yang masih cukup tinggi. Dengan berbagai perkembangan tersebut, untuk keseluruhan tahun 2010 surplus NPI diperkirakan lebih baik dari perkiraan semula. “Tinggal 1 notch lagi bagi Indonesia untuk mencapai investment grade, sehingga akan semakin memberikan keyakinan yang lebih besar bagi investor asing untuk meningkatkan investasinya di Indonesia”, jelas Hartadi menanggapi perbaikan sovereign rating Indonesia oleh Fitch menjadi BB+ dari semula BB beberapa waktu yang lalu.

             Disamping kinerja ekspor yang membaik tersebut, kegiatan konsumsi swasta juga menunjukkan perbaikan. Hal ini dikonfirmasi oleh peningkatan berbagai indikator konsumsi seperti impor barang konsumsi, penjualan mobil dan motor, serta penjualan ritel. Ke depan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap meningkat sejalan dengan pendapatan yang lebih tinggi karena income effect dari perbaikan ekspor dan terjaganya tingkat keyakinan konsumen.
           Di sisi harga, tekanan inflasi diyakini belum akan signifikan setidaknya pada semester I-2010. Perkembangan inflasi dalam 2 bulan pertama 2010 masih tetap terjaga pada tingkat yang rendah. Relatif terkendalinya inflasi juga tercermin pada perkembangan inflasi inti yang turun dari 4,43% (yoy) pada bulan Januari 2010 menjadi 3,88% (yoy) pada bulan Februari 2010. Kenaikan inflasi IHK di awal tahun 2010 terbukti bersifat temporer, terutama karena kenaikan harga beras, dan diperkirakan tidak akan terjadi lagi lonjakan harga dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan telah datangnya musim panen di berbagai daerah. Kemungkinan kenaikan tarif TDL, apabila kemudian tetap diberlakukan, diperkirakan juga tidak akan menimbulkan dampak yang besar terhadap inflasi sepanjang diterapkan terutama pada kelompok pelanggan besar. Secara keseluruhan, inflasi ke depan diyakini akan tetap terjaga pada sasaran yang ditetapkan yakni 5%+1% pada tahun 2010 dan 2011. “Meskipun kegiatan ekonomi domestik meningkat.

              2010 telah kita lalui bersama dengan segala macam peristiwa, saatnya kita melihat bagaimana prospek ekonomi di tahun 2011. Beberapa pengamat memperkirakan optimisme bahwa perekonomian tahun depan akan cerah dan menjanjikan.
              Praktisi, Penulis, dan Pembicara Bidang Manajemen Korporasi, Djayendra menjelaskan bahwa Indikator perekonomian Indonesia di akhir tahun 2010 ini memperlihatkan tanda- tanda positif. Cadangan devisa sudah mencapai angka sekitar 93 miliar dollar AS. Indeks saham BEI sudah mencapai angka di atas 3600. Rupiah cukup kuat bergerak di sekitar Rp 8900 – 9100/USD. Ketiga hal tersebut menguat disebabkan oleh aliran modal asing ke Indonesia yang sangat luar biasa, khususnya ke pasar modal dan pasar uang. Termasuk, naiknya harga-harga komoditas dasar di pasar global membuat perekonomian Indonesia semakin membaik. Di samping itu, gaya pemerintahan sekarang yang sangat pro pasar bebas, sehingga para investor asing merasa sangat nyaman berbisnis di Indonesia. Oleh karena itu, dalam jangka pendek perekonomian Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus, dan di tahun 2011 perekonomian Indonesia akan semakin membaik.
           Untuk pembangunan ekonomi domestik, Djayendra melihat distribusi uang dari sektor perbankan ke sektor usaha sudah semakin membaik. Peran bank umum besar dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) semakin luar biasa untuk membantu keuangan usaha kecil menengah. Saat ini mendapatkan modal usaha dari bank untuk usaha kecil menengah mungkin tidak sesulit zaman dulu. Sekarang bank semakin memahami kekuatan usaha kecil menengah dan memiliki motivasi yang sangat luar biasa untuk membantu keuangan usaha kecil menengah. Artinya, perekonomian domestik dengan kekuatan usaha kecil, menengah, dan usaha non formal akan memperkuat fondasi perekonomian domestik Indonesia di sepanjang tahun 2011.
Lebih lanjut Djayendra memperkirakan perekonomian Indonesia di tahun 2011 akan tumbuh di kisaran 5,8% – 6,2%. Rupiah akan berada di sekitar Rp 8900/9400 per dollar Amerika Serikat. Sangat percaya di tahun 2011 perjalanan perekonomian Indonesia akan terlihat seperti di tahun 2010.

            Sedangkan pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada, Toni Prasetiantono dalam seminar politik dan ekonomi Indonesia 2011 di Jakarta sebagaimana dilansir medanbisnis, mengatakan bahwa potret ekonomi 2011 masih menjanjikan, pertumbuhan ekonomi 6,0 persen masih bisa dicapai.
Sementara itu, Bank Pembangunan Asia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 45 negara berkembang Asia pada 2011 tetap di level 7,3%, dari estimasi tahun ini di 8,6%. Dalam sebuah laporan yang dirilis Selasa (7/12), lembaga Manila menaikkan perkiraan pertumbuhan untuk 45 negara berkembangan di Asia dan Pasific dari perkiraan 8,2% yang dibuat pada September.

            Perekonomian Indonesia harus selalu dikelola secara sangat hati-hati. Sebab, dana-dana investasi yang masuk cukup besar ke pasar modal dan pasar uang tersebut berpotensi sebagai dana-dana spekulasi. Untuk itu, saatnya kita semua tidak terlalu terlena oleh pujian-pujian dari berbagai lembaga internasional terhadap kemajuan ekonomi Indonesia. Kita semua harus selalu optimis dalam melihat masa depan ekonomi, kita juga harus cerdas memahami realitas yang kita miliki saat ini. Di samping itu kita harus jujur atas keterbatasan energi listrik kita untuk mendorong terciptanya investasi di sektor riil. Persoalan infrastruktur sangat perlu di perhatikan. Hal yang paling sederhana adalah persoalan macet di jalan raya. Hampir semua kota-kota bisnis dan industri di Indonesia mengalami hambatan dalam distribusi produk dan jasa secara efektif, efisien, dan produktif. Dan semua ini disebabkan tidak terkelolanya jalan raya secara baik, sehingga macet dimana-mana dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.
Menurut Djayendra, beberapa hal yang perlu diperhatikan di tahun 2011 adalah
1.    Pemerintah harus lebih fokus untuk pemerataan dan pembangunan ekonomi domestik.
2.    Industri dalam negeri harus lebih dilindungi dan jangan dibiarkan menjadi korban dari industri murah China.
3.    Jangan terlalu terlena dengan angka-angka ekonomi makro, tapi perhatikan sifat dari angka-angka ekonomi makro tersebut.
4.    Manfaatkan momentum positif perekonomian Indonesia di tahun 2011 untuk memperkuat fondasi sektor usaha perkebunan, pertanian, perikanan, dan energi.
5.    Manfaatkan potensi kreatifitas masyarakat Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik.
6.    Alam Indonesia yang luar biasa indah ini seharusnya mulai dikelola secara profesional untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

Resiko & Tantangan Ekonomi di 2011
             Komite Ekonomi Nasional dalam buku Prospek Ekonomi Indonesia 2011 menuturkan ada sejumlah tantangan dan risiko yang perlu diantisipasi Indonesia di tahun depan sebagaimana dilansir vivanews.com adalah :
-Tantangan atas kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi, karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing, termasuk jangka pendek.
-Terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadinya penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar.
-Subsidi energi dan alokasi yang kurang efisisien. Selama ini, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) masih dinikmati orang mampu (berpenghasilan tinggi). Terkait masalah ini, Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tanjung mengatakan yang wajib mendapat subsidi ialah orang miskin, orang mampu sebaiknya tidak dapat subsidi.
-Resiko inflasi terutama dipicu komponen makanan, pendidikan, dan ekspektasi inflasi.
-Infrastrukstur dan interkoneksi (transportasi) yang kurang memadai.
-Peningkatan daya saing, perbaikan pendidikan, dan pelatihan serta penambahan pasokan tenaga teknik terdidik yang menjadi penghambat bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi produk (utamanya yang padat karya), menghambat investasi dan mengurangi penciptaan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Masalah daya saing Indonesia masih tertinggal dibawah Malaysia, Singapura dan Thailand.Daya serap atau belanja pemerintah (pusat dan daerah) yang masih belum optimal.
-Resiko yang berkenaan dengan kondisi politik dan hukum yang terjadi.
-Resiko perubahan iklim, bencana alam, dan krisis keuangan yang datang secara mendadak.
-Tantangan resiko global, seperti pemulihan ekonomi negara maju masih akan lama, sehingga berdampak pada pemulihan ekonomi dan perdagangan dunia.
-Geopolitical-Geoeconomy G2 mengenai persoalan ketidakseimbangan ekonomi dunia, perang kurs dan potensi perang korea yang sangat tergantung pada G2 (China-AS), bukan G20.
Sejumlah pengamat ekonomi menyatakan optimismenya bahwa prospek perekonomian Indonesia pada 2011 cerah dan menjanjikan.
 "Potret ekonomi 2011 masih menjanjikan, pertumbuhan ekonomi 6,0 persen masih bisa dicapai," kata pengamat ekonomi UGM, Toni Prasetiantono dalam seminar politik dan ekonomi Indonesia 2011 di Jakarta, Kamis. Bahkan Toni optimis, pertumbuhan ekonomi 2011 bisa mencapai lebih dari 6,0 persen, tetapi sulit untuk mencapai 6,5 persen.
"Ada kendala internal dan eksternal yang kemungkinan akan muncul pada 2011 seperti masalah perubahan iklim yang menyebabkan masalah dalam penyediaan pangan," katanya.
Toni juga mengingatkan adanya sejumlah PR jangka panjang yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.
Pekerjaan Rumah (PR) jangka panjang itu antara lain masalah penyediaan infrstruktur, penanganan korupsi, pembenahan birokrasi, dan peningkatan daya saing nasional.
"Ancaman ledakan jumlah penduduk juga merupakan ancaman yang harus diwaspadai menyusul tingkat pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,49 persen," katanya.
Menurut dia, angka itu terlalu tinggi dan idealnya untuk Indonesia sebesar 1,0 hingga 1,2 persen saja. "Dengan pertumbuhan setinggi itu, sepertinya BKKBN sudah tidak ada lagi, lembaga itu sekarang tidak dikenal oleh masyarakat," katanya.

             Senada dengan Toni, Direktur Riset Danareksa, Purbaya Yudi Sadewa juga menyatakan optimismenya bahwa akumulasi pertumbuhan ekonomi tidak akan berhenti di 2010 tetapi berlanjut di 2011.
"Pertumbuhan ekonomi pada 2011 akan lebih cepat, akan lebih baik, suku bunga dan inflasi akan lebih rendah," katanya.
Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2011 maksimal hanya akan sama dengan tahun 2010.
"Investasi yang diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan investasi tidak kunjung datang karena dukungan infrastruktur tidak sesuai harapan," katanya.
Ia menyebutkan, pendorong pertumbuhan saat ini hanya sektor konsumsi yang terlihat dari impor yang meningkat pesat sementara perbaikan penyediaan infrastruktur dan kepastian hukum belum memuaskan.
Sofyan menyebutkan, saat ini harga bahan baku industri dalam negeri yang sebagian besar diimpor mengalami kenaikan. "Ini akan menyulitkan industri untuk berkembang," katanya.
perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan domestik dan kondisi eksternal yang tetap kuat.

              LKM triwulan-IV 2010 Bank Indonesia, Biro Kebijakan Moneter Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, menyatakan pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai 6,1%-6,5% tahun 2011 serta 6,1%-6,6% tahun 2012.
Peran investasi dalam pertumbuhan ekonomi diprakirakan semakin meningkat, didorong berbagai faktor positif seperti potensi pencapaian investment grade serta perbaikan iklim investasi dan birokrasi.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga diprakirakan masih tetap tumbuh tinggi sejalan dengan meningkatnya pendapatan dari upah, hasil ekspor, dan dukungan pembiayaan kredit dari perbankan.
Dari sisi eksternal, ekspor diprakirakan tumbuh kuat memenuhi peningkatan permintaan di negara-negara partner dagang.
Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan terutama didukung oleh sektor industri; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor pengangkutan dan komunikasi.

Prospek Permintaan Agregat 
               Konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh kuat pada kisaran 4,8%-5,3% pada tahun 2011 dan meningkat menjadi 4,9%-5,4% pada tahun 2012.
Kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga tersebut didorong oleh berbagai faktor positif, terutama berupa peningkatan pendapatan masyarakat.
Pendapatan masyarakat yang meningkat berasal dari kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), perbaikan pendapatan aparat negara, dan kenaikan gaji karyawan perusahaan.
Sampai dengan November 2011, sudah terdapat penetapan kenaikan UMP tahun 2011 untuk beberapa provinsi.
              Besaran kenaikan UMP tersebut berbeda-beda, sesuai tingkat inflasi dan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) provinsi-provinsi tersebut.
Secara umum, besaran kenaikan UMP 2011 lebih tinggi dibanding  kenaikan UMP 2010.
Selain UMP, peningkatan konsumsi rumah tangga berasal dari perbaikan pendapatan aparat negara yang terdiri dari PNS, TNI, Polri, serta pensiunan.
Dalam anggaran belanja negara di APBN 2011, Pemerintah menetapkan kenaikan gaji pokok aparat negara dan pensiunan pada tahun 2011 sebesar 10%, lebih tinggi dibanding kenaikan pada tahun 2010 sebesar 5%.
Selain itu, gaji ke-13 tetap akan dibagikan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dimaksudkan untuk tetap mempertahankan daya beli rumah tangga aparat negara.
Dukungan terhadap konsumsi rumah tangga juga berasal dari pendapatan penjualan hasil ekspor.
Berdasarkan perkembangan beberapa tahun terakhir, kinerja ekspor memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap perilaku konsumsi rumah tangga.

           Kinerja ekspor berprospek tumbuh cukup tinggi tahun 2011 dan 2012 akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan berkontribusi pada kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Faktor lain yang memberi kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga adalah pembiayaan dari perbankan, terutama dalam bentuk kredit konsumsi.
Konsumsi Pemerintah riil pada tahun 2011 diprakirakan tumbuh mencapai 10,3%-10,8%, dan pada tahun 2012 tumbuh 1,5%-2,0%.
Konsumsi Pemerintah pada tahun 2011 yang cukup tinggi terutama diprakirakan berasal dari belanja pemerintah pusat, yaitu untuk kementrian/lembaga (K/L).
Hal tersebut sejalan dengan program Pemerintah untuk melakukan perbaikan penyerapan anggaran K/L seiring dengan dimulainya pelaksanaan revisi Keppres terkait pengadaan barang dan jasa serta revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait anggaran dan pembayaran kepada pihak ketiga.
Sumber konsumsi Pemerintah diprakirakan juga berasal dari komponen belanja pegawai untuk perbaikan kesejahteraan aparatur negara dan pensiunan.

              Selanjutnya untuk tahun 2012, konsumsi Pemerintah diprakirakan melambat seiring dengan defisit fiskal yang lebih rendah karena upaya Pemerintah untuk menetapkan kebijakan fiskal yang prudent.
Kondisi fiskal yang prudent diharapkan mampu meningkatkan stabilitas makroekonomi secara umum, yang akan berdampak positif bagi iklim investasi ke depan.
Kondisi perekonomian yang positif menjadi faktor utama yang akan mengundang investasi sehingga investasi diprakirakan tumbuh 10,4%-10,9% tahun 2011 dan meningkat menjadi 12,1%-12,6% tahun 2012.
Prospek investasi yang cerah tersebut didorong berbagai faktor, antara lain stabilitas makroekonomi yang diprakirakan tetap terjaga, potensi kenaikan rating Indonesia mencapai investment grade tahun 2011, iklim investasi yang membaik, perbaikan birokrasi pemerintahan, serta potensi pasar di Indonesia karena besarnya jumlah populasi dibanding dengan kawasan regional lain di Asia Tenggara.
Prospek investasi tersebut tercermin pada prakiraan Consensus Forecasts bulan November 2010, yang menyebutkan investasi langsung dari luar negeri (Foreign Direct Investment/FDI) ke Indonesia tahun 2010 dapat mencapai 9,3 miliar dolar AS, atau sekitar 1,2% dari PDB.
Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding estimasi aliran FDI pada tahun 2010 sebesar 9,0 miliar dolar AS.
Dibanding dengan kawasan regional lainnya di Asia, Indonesia berpotensi menjadi negara tujuan utama aliran FDI setelah China, India, dan Singapura.
Perbaikan iklim investasi di Indonesia juga disertai dengan perbaikan untuk melakukan usaha/bisnis di Indonesia.

              Hasil survey World Bank dan International Finance Corporation (IFC) dalam publikasinya Doing Business 2011 menunjukkan indikator kemudahan berbisnis di Indonesia mencatat peningkatan untuk beberapa hal memulai bisnis, ijin pembangunan, pendaftaran properti, serta ekspor.
Namun secara relatif, jika dibanding dengan 183 negara yang disurvey dalam Doing Business 2011, Indonesia mengalami penurunan ranking untuk tahun 2011 menjadi 121, dari 115 pada tahun sebelumnya.
Penurunan ranking tersebut terjadi karena reformasi kemudahan berbisnis di negara lain tercatat lebih baik dibanding reformasi di Indonesia.
Ke depan, Indonesia perlu melanjutkan berbagai perbaikan untuk mendorong kemudahan berbisnis sehingga dapat mengundang aliran investasi yang lebih tinggi.
Seiring dengan volume perdagangan dunia yang diprakirakan tumbuh tinggi, ekspor barang dan jasa diprakirakan tumbuh sekitar 7,1%-7,6% tahun 2011 dan 7,9%-8,4% tahun 2012.
Komoditas ekspor Indonesia secara historis sangat terkait erat dengan aktivitas perdagangan dunia.
Pada tahun 2011-2012, pertumbuhan ekonomi dunia yang diprakirakan berkisar 4% akan disertai dengan kegiatan perdagangan yang tumbuh sekitar 7%.
Di tengah kondisi perdagangan dunia yang tumbuh kuat tersebut, kinerja ekspor Indonesia diprakirakan dapat merespons dengan positif.

              Berdasarkan negara tujuan, ekspor Indonesia ke negara berkembang cenderung meningkat, misalnya pangsa ekspor nonmigas ke China tahun 2010 tercatat sekitar 10%, lebih tinggi dibanding pangsa tahun 2005 sekitar 6%.
Sebaliknya, pangsa ekspor nonmigas ke Amerika Serikat tahun 2010 sekitar 11%, menurun dibanding dengan pangsa tahun 2005 sekitar 14%.
Kecenderungan ini diprakirakan terus berlangsung pada tahun-tahun mendatang, dan menjadi faktor pendorong kuatnya potensi pertumbuhan ekspor.
Hal itu terlihat dari volume perdagangan dunia di negara-negara berkembang yang pada tahun 2011 diprakirakan tumbuh sekitar 9,5%, lebih tinggi dibanding dengan volume perdagangan dunia di negara-negara maju sekitar 5,6%.
Selain faktor permintaan, kinerja ekspor Indonesia juga akan tumbuh kuat dengan dorongan dari tren kenaikan harga komoditas.

             Harga komoditas tahun 2011 dan 2012 yang diprakirakan tumbuh positif akan memberi insentif bagi eksportir, terutama untuk melakukan ekspor komoditas berbasis sumber daya alam.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah ekspor komoditas berbasis sumber daya alam/SDA (komoditas pertanian, pertambangan, dan kelapa sawit) menunjukkan tren peningkatan.
Kuatnya permintaan domestik dan tingginya pertumbuhan ekspor akan mendorong impor barang dan jasa untuk tumbuh sekitar 9%-10% tahun 2011-2012.
Peningkatan kinerja ekspor akan mendorong permintaan terhadap barang input untuk produksi lebih lanjut.
Barang input tersebut dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Barang produksi dari luar negeri dipenuhi dalam bentuk impor.
Dengan demikian, kinerja ekspor yang tumbuh kuat akan menyebabkan pertumbuhan impor pada tren yang sama.

            Selain itu, kuatnya ekspor akan menghasilkan income effect bagi masyarakat rumah tangga.
Dalam kondisi demikian, rumah tangga di Indonesia akan cenderung melakukan konsumsi barang tahan lama yang antara lain juga dipenuhi dalam bentuk impor barang konsumsi, hal ini menjadi faktor berikutnya bagi potensi peningkatan impor pada tahun 2011-2012.
Hal yang sama terjadi pada impor barang modal, seiring dengan prospek investasi yang diprakirakan terus mengalami akselerasi.
Investasi yang dilakukan untuk menambah kapasitas produksi akan mendorong impor mesin-mesin.
Sementara itu, investasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur akan menyebabkan impor alat berat dan alat angkut mengalami peningkatan.
Secara umum, potensi peningkatan impor dapat terjadi seiring dengan perbaikan proses ekonomi yang terus berlangsung.

Prospek Penawaran Agregat 
            Dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan terutama didukung oleh sektor industri; sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR); serta sektor pengangkutan dan komunikasi.
Kontribusi ketiga sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai lebih dari 60% pada tahun 2010-2012.
Sektor PHR serta sektor pengangkutan dan komunikasi merupakan dua sektor yang diprakirakan tumbuh relatif tinggi pada periode 2010-2012, seiring dengan kuatnya permintaan domestik dan membaiknya kondisi perekonomian.
Pertumbuhan ekonomi pada periode 2010-2012 diprakirakan masih akan tetap didominasi oleh nontraded sector.

             Sektor industri pengolahan diprakirakan tumbuh 4,0%-4,5% pada tahun 2011, dan meningkat mencapai 4,1%-4,6% pada tahun 2012.
Sektor industri pengolahan telah menunjukkan geliat aktivitas yang lebih tinggi sejak triwulan IV 2009, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi baik domestik maupun eksternal.
Optimisme membaiknya kinerja sektor industri pengolahan tercermin dari industrial production index (IPI) yang menunjukkan tren meningkat.
Selain itu, impor bahan baku yang cenderung meningkat akhir-akhir ini  mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan di sektor industri pengolahan, terutama industri yang memiliki kandungan impor dalam struktur inputnya.
Pengadaan impor bahan baku semakin murah, seiring dengan tren penguatan rupiah yang masih berlanjut.
Sementara itu pemulihan kondisi ekonomi domestik dan global yang terus berlangsung memberikan optimisme akan meningkatnya permintaan baik dari dalam negeri, maupun luar negeri.
Menguatnya permintaan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekspor dan konsumsi masyarakat yang masih tumbuh cukup tinggi, kondisi ini sangat kondusif bagi berkembangnya sektor industri pengolahan.
Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) diprakirakan memiliki kinerja yang prospektif dan tumbuh tinggi sekitar 9,2%-9,7% tahun 2011-2012.

           Perkembangan kinerja sektor PHR sangat dipengaruhi oleh aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat dan perkembangan daya beli masyarakat.
Hasil survey konsumen BI menunjukkan ekspektasi penghasilan masyarakat berada pada level optimis dengan indeks di atas 100.
Kondisi tersebut mengindikasikan kuatnya daya beli masyarakat di masa yang akan datang.
Indikator lain yaitu indeks perdagangan eceran telah bertengger di atas level 100 dengan tren meningkat mencerminkan optimisme dalam kegiatan perdagangan dan perkembangan prospek ekonomi Indonesia ke depan.

             Berbagai perkembangan tersebut memberikan indikasi akan meningkatnya kegiatan di sektor PHR.
Faktor lain yang mendukung perkembangan sektor PHR yaitu kenyataan bahwa Indonesia merupakan pasar yang potensial.
Besarnya potensi pasar Indonesia, selain didukung oleh kuatnya konsumsi masyarakat, juga didukung oleh besarnya pasar, baik dari sisi luas area maupun dari sisi jumlah penduduk.
Sementara itu, rencana pembangunan hotel di beberapa daerah di tanah air mulai tahun 2011 menunjukkan prospek ke depan yang positif pada subsektor ini.
Selain itu, rencana penambahan armada beberapa maskapai penerbangan dan pembukaan rute penerbangan baru baik domestik maupun luar negeri memperkuat ekspektasi cerahnya prospek ke depan subsektor hotel dan restoran Indonesia.

            Jumlah wisatawan mancanegara diprakirakan semakin meningkat, yang didukung oleh stabilnya kondisi politik dan keamanan di Indonesia.
Sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan masih akan tumbuh cukup tinggi di kisaran 12,1%-12,6% tahun 2011 dan 10,8%-11,3% tahun 2012.
Subsektor komunikasi diprakirakan tetap menjadi motor pertumbuhan utama sektor pengangkutan dan komunikasi.
Investasi dan pembaruan teknologi yang terus menerus dilakukan dari tahun ke tahun dalam rangka perbaikan layanan kepada masyarakat serta masih luasnya pasar yang belum tersentuh memungkinkan subsektor ini mampu tumbuh cukup tingi.
Saat ini perkembangan internet, terutama di kota-kota besar kian marak, terutama terkait dengan pemanfaatan layanan data, kondisi ini diprakirakan masih akan berlanjut untuk beberapa tahun ke depan.
Kondisi ekonomi domestik yang terus membaik serta aktivitas berbagai sektor ekonomi yang semakin menggeliat menjadi pendukung meningkatnya kinerja subsektor pengangkutan.
Kondisi ekonomi yang membaik, aktivitas berbagai sektor ekonomi yang meningkat, serta daya beli masyarakat yang cukup kuat merupakan faktor-faktor yang akan mendorong kegiatan terkait dengan distribusi barang dan perjalanan masyarakat bertumbuh.
Meningkatnya angkutan kargo dan penumpang angkutan udara menjadi indikator optimisme subsektor pengangkutan ini.

            Kegiatan perdagangan yang meningkat akan mendorong kegiatan bongkar muat barang.
Sementara itu meningkatnya aktivitas ekonomi akan meningkatkan aktivitas perjalanan dunia usaha.
Kondisi ini telah direspons oleh pelaku usaha di bidang penerbangan melalui penambahan armada angkut dan pembukaan rute baru.
Sektor pertanian diprakirakan tumbuh 2,7%-3,2% tahun 2011 dan meningkat menjadi 3,1%-3,6% tahun 2012.
Perkembangan sektor pertanian masih akan diwarnai fenomena anomali cuaca yang diprakirakan dapat memengaruhi produksi dan produktivitas sektor pertanian.
Tingginya curah hujan di sepanjang tahun 2010 di berbagai sentra bahan pangan menyebabkan rendahnya produksi bahan pangan.
Pertumbuhan produksi tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai juga menunjukkan perlambatan cukup signifikan, hal itu tercermin dari Angka Ramalan III 2010 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.
Selain dari tanaman bahan pangan, melambatnya sektor pertanian juga disumbang oleh melambatnya pertumbuhan subsektor perkebunan.
Perlambatan produksi perkebunan antara lain terjadi pada perkebunan karet dan kakao yang disebabkan oleh tingginya curah hujan.

             Sejauh ini berbagai upaya yang direncanakan Pemerintah dalam menghadapi anomali cuaca masih menghadapi kendala.
Penyediaan infrastruktur pertanian seperti perbaikan irigasi dan pembangunan bendungan belum seluruhnya terlaksana.
Demikian pula terkait penyediaan bibit unggul berbagai jenis tanaman yang tahan terhadap hama dan cuaca.
Terkait dengan upaya menjaga ketahanan pangan nasional, Pemerintah akan mendorong pengembangan bahan pangan nasional yang lebih terarah pada tahun 2011.
Dalam RAPBN 2011, Pemerintah mengalokasikan Rp122 triliun untuk pembangunan proyek infrastruktur.
Proyek pembangunan infrastruktur untuk tahun 2011 antara lain diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

            Pemerintah berencana untuk memperbaiki layanan irigasi dan rawa seluas 3,45jt Ha melalui peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi masing-masing 56rb Ha dan 161rb Ha.
Dengan proyek infrastruktur pemerintah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan nasional.
Upaya lain dari pemerintah untuk meningkatkan produksi bahan pangan nasional yaitu mengupayakan penyediaan 1 juta hektar lahan olahan baru untuk mendorong peningkatan hasil bahan pangan di luar Jawa dan Sumatera.

              Pengembangan perkebunan ke depan juga akan lebih terfokus, terutama pada komoditas-komoditas yang berpotensi meningkatkan kinerja sektor pertanian.
Fokus pembangunan perkebunan 2011 mencakup beberapa kegiatan revitalisasi perkebunan seperti peningkatan produktivitas, perluasan lahan, peremajaan dan rehabilitasi.
Untuk program revitalisasi terutama ditujukan untuk tanaman sawit, karet dan kakao.
Terkait rencana pemerintah melakukan substitusi 3% bahan bakar fosil pada tahun 2014, pemerintah merencanakan akan mengembangkan bahan tanaman bio-energi yaitu kelapa sawit, kelapa, jarak pagar dan kemiri sunan; tanaman kakao.
Selain itu pemerintah juga akan mendorong perkembangan tanaman tebu dalam rangka persiapan swasembada gula tahun 2014.

             Sementara itu, untuk mempertahankan pangsa pasar internasional serta penetrasi pasar baru produk-produk perkebunan Indonesia, pemerintah akan mendorong pengembangan kelapa sawit, karet, kakao, kopi, kelapa, jambu mete, lada, tembakau, teh dan nilam.
Realisasi pembangunan berbagai proyek infrastruktur diprakirakan meningkat sehingga sektor bangunan berpotensi tumbuh 7,5%-8,0% tahun 2011 serta 7,8%-8,3% tahun 2012.
Selain proyek yang memang dijadwalkan akan dibangun tahun 2011, berbagai proyek yang tertunda pembangunannya pada tahun 2010, akan dilaksanakan di tahun 2011.
Dalam APBN 2011 Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur sebesar Rp122 triliun.
Namun demikian dana sebesar itu diprakirakan tidak cukup untuk membiayai semua proyek yang akan dilaksanakan tahun 2011.

              Untuk itu Pemerintah membuka secara luas peluang partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur.
Selain proyek-proyek infrastruktur, meningkatnya kegiatan di sektor bangunan juga didukung oleh pembangunan properti.
Dengan kemampuan daya beli masyarakat yang masih kuat, bisnis properti ikut terdorong.
Maraknya pembangunan proyek infrastruktur dan proyek properti direspons oleh produsen semen dengan meningkatkan target pertumbuhan penjualan tahun 2011 sebesar 10% dibanding tahun 2010.
Pertumbuhan penjualan semen sebesar 10% tersebut lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan konsumsi semen selama ini yang berkisar 5%-7% per tahun.(mydk)

Sumber :
http://kominfonewscenter.com/index.php?option=com_content&view=article&id=983:prospek-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2011-2012&catid=36:nasional-khusus&Itemid=54